Text
Teori kepemimpinan
Bila membaca hikayat tentang pemimpinan-pemimpinan di zaman para Nabi dan Rasul, baik pemimpin suku, kafilah, bangsa,wilayah atau negara yang bermartabat betapa jabatan sebagai pemimpin adalah jabatan yang paling dihindari sebab dengan ditunjuknya menjadi pemimpin maka orang-orang yang berkualitas itu merasa berkurang kesempatannya untuk mendapatkan 'surga. sebab pemimpinlah yang paling berat bebannya. pemimpinlah yang terakhir kenyang setelah warganya tidak ada yang kelaparan. Pemimpinlah yang terakhir sejahtera setelah warganya sejahtera. Oleh karena di dalam masyarakat suatu negara pastilah ada yang miskin maka ketika seseorang ditunjuk sebagai pemimpin maka seluruh hartanya yang ada sebelum ia menjadi pemimpin habis di dermakan dan dibagikan untuk negara dalam rangka menyantuni masyarakat miskin dan terlantar. Setidaknya itulah yang ditunjukan oleh para pemimpin-pemimpin yang hidup di zaman Rasulullah dan pengikut setianya.
Selanjutnya hingga dewasa ini kita tidak pernah dan (semoga akan pernah) melihat lagi orang-orang yang menganggap dirinya cakap dan berharta menolak ditunjuk jadi pemimpin. Jangankan menolak, bahkan rebutan untuk menjabat, dari tataran yang sangat rendah (ketua RT) sampai dengan tertinggi (Presiden). Padahal jelas jabatan pemimpin adalah pekerjaan amanah yang sangat-sangat berat beban dan tanggung jawabnya. Memang harus diakui bahwa setiap manusia diciptakan (dilahirkan) untuk menjadi pemimpin, akan tetapi dalam konteks yang universal yaitu pemimpin dirinya sendiri.
Menjadi pemimpin sangatlah sulit dan mengandung risiko hidup tertinggi dalam hidup, sehingga rasanya aneh banyak orang yang berebut dan berlomba untuk menjadi pemimpin. Seorang pemimpin sejati hanya akan tampil pada saat di mana kondisi membutuhkan pemimpin sedangkan yang lain tidak berani tampil jadi pemimpin. Pada kondisi di mana situasi aman tentram terkendali seorang pemimpin tadi akan segara mengundurkan diri menjadi pemimpin. Pemimpin dalam kondisi aman tenteram haruslah ditunjuk oleh yang berwenang dan memiliki pengetahuan dan dasar ilmu yang mumpuni (misalnya para Ulama) Menjadi pemimpin tidak harus di lotere atau di pemilu. Pemilu hanya memilih bos atau manager atau administratur. Sekali lagi pemimpin harus ditunjuk atau menunjukan diri bila dalam kondisi yang sangat kritis lalu menghilang dalam kondisi yang kondusif. Beda dengan manager atau bos selalu muncul setiap saat baik kritis atau tidak, selalu berebut dan ambisius memperebutkan jabatan pemimpin karena ingin berkuasa, ditakuti, balas dendam dan memperkaya diri, atau semacamnya. Memperkerjakan bos atau manager hanya berhasil pada level rendah dan jangka pendek. Dalam kondisi di mana diperlukan penanggung jawab kesalahan atau kegagalan, pemimpin sejati selalu tampil di depan, tanpa mengharapkan pujian dan hadiah.
Tidak tersedia versi lain